Makna Simbolik dalam Tradisi Muang Jong di Desa Juru Seberang Kabupaten Belitung

Penulis

  • Rio Saputra Universitas Bangka Belitung Penulis
  • Aimie Sulaiman Universitas Bangka Belitung Penulis
  • Tiara Ramadhani Universitas Bangka Belitung Penulis

Kata Kunci:

Muang Jong, Makna Simbolik, Suku Sawang, Identitas Budaya

Abstrak

Penelitian ini menganalisis terkait Makna simbolik dalam tradisi Muang Jong di Desa Juru Seberang Kabupaten Belitung. Tujuan dari penelitian ini adalah : 1). Untuk mendeskripsikan makna simbolik dalam tradisi Muang Jong serta bagaimana tradisi tersebut berperan dalam mempertahankan identitas diri suku Sawang. Penelitian ini menggunakan teori Interaksionisme Simbolik yang dikemukakan oleh Herbert Blumer sebagai pisau analisis penelitian. Metode Penelitian adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan Interpretatif. Sumber data yang digunakan yakin sumber data primer dan data sekunder. Teknik penentuan informan menggunakan Random sampling. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1). Terdapat beberapa penguatan identitas asli suku sawang yang dicerminkan dengan nilai-nilai sosial yang bertahan dalam tradisi Muang Jong seperti gotong royong, partisipasi generasi muda dan generasi tua, serta adanya kegiatan saling mengundang antar Suku Sawang dari luar daerah yang mempererat solidaritas mereka. Namun, di tengah semangat pelestarian tersebut, muncul kekhawatiran dari generasi tua mengenai pudarnya penggunaan bahasa asli suku sawang oleh generasi muda. Bagi para sesepuh, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga simbol identitas dan keberadaan budaya mereka. 2). Muang Jong mengandung makna simbolik yang merefleksikan hubungan masyarakat dengan laut. Jong (replika kapal) disimbolkan sebagai rumah para nelayan, sementara prosesi pelarungan jong mencerminkan harapan dan pertukaran rezeki. Simbol sesajen seperti ayam, rokok, kaleng berisi kayu, replika orang-orangan, hingga ancak (replika rumah) memiliki makna simbolik tersendiri yang berkaitan dengan alam gaib.  3). Proses individu dalam memahami makna simbol terbentuk dari proses interpretasi individu, generasi sebelumnya lebih memandang tradisi ini sebagai ritual sakral. Sementara itu, generasi muda melihat tradisi ini sebagai identitas budaya mereka yang diwariskan dari nenek moyang. 4). Premis interaksionisme simbolik dari Herbert Blumer terbagi menjadi tiga yaitu tindakan manusia selalu didasarkan pada makna, Premis kedua menjelaskan mengenai makna muncul dari interaksi sosial dengan orang lain, dengan artian makna diciptakan melalui interaksi sosial yang berlangsung secara turun-temurun dan, Premis ketiga menjelaskan mengenai makna selalu dimodifikasi melalui proses interpretasi individu ketika berhadap dengan sesuatu.

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Referensi

Fajriana, Fidyan. 2017. “UPACARA ADAT BUANG JUNG Pada Masyarakat Suku Sekak Di Bangka.” Sabda : Jurnal Kajian Kebudayaan 3(2).

Isnaeni, Adistri Noor. 2020. “Nilai-Nilai Dan Makna Simbolik Tradisi Sedekah Laut Di Desa Tratebang Kecamatan Wonokerto Kabupaten Pekalongan.” Universitas Diponegoro Semarang.

Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Ritzer, George & Goodman Douglasj. 2010. Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Kencana Prada Media Group.

Saepuloh, Aep. 2019. “Tradisi Upacara Adat Muang Jong Dalam Konteks Budaya Masa Kini.” Panggung 29(1).

Diterbitkan

2025-09-08

Cara Mengutip

Makna Simbolik dalam Tradisi Muang Jong di Desa Juru Seberang Kabupaten Belitung. (2025). Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner , 2(03), 576-581. https://ojs.ruangpublikasi.com/index.php/jpim/article/view/926