Video Art Sebagai Gerakan Lingkungan (Studi Gerakan Teater Potlot Palembang Sumatera Selatan)

Penulis

  • Ariadi Damara Universitas Bangka Belitung Penulis
  • Iskandar Zulkarnain Universitas Bangka Belitung Penulis
  • Herza Universitas Bangka Belitung Penulis

Kata Kunci:

Video Art, Gerakan Sosial Baru, Lahan Basah Sungai Musi

Abstrak

Video art adalah bentuk seni yang memanfaatkan video dan audio sebagai media utama dalam berkarya. Berbeda dengan film, video art tidak bergantung pada aturan sinema. Seni ini tidak harus menggunakan aktor, dialog, plot, atau narasi yang jelas. Tujuan utama video art bukan sekadar untuk menghibur, melainkan lebih menitikberatkan pada eksplorasi medium dan makna. Penelitian ini mengkaji sebelas karya video art yang diproduksi oleh Teater Potlot dengan menggunakan kerangka teori Gerakan Sosial Baru (New Social Movements) yang dikemukakan oleh Rajendra Singh. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis respons Teater Potlot terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi di kawasan Lahan Basah Sungai Musi, serta memahami strategi mobilisasi sumber daya gerakan yang dilakukan sebagai bagian dari upaya penyelamatan lingkungan. Metodologi yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi, dengan memanfaatkan sumber data primer maupun sekunder. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Gerakan Sosial Baru mampu melampaui berbagai batasan struktural seperti ras, kewarganegaraan, maupun profesi. Teater Potlot, sebagai aktor dari gerakan ini, membuktikan bahwa video art dapat berfungsi sebagai medium yang efektif dalam merespons krisis ekologis, khususnya kerusakan Lahan Basah Sungai Musi, sekaligus sebagai alat untuk memobilisasi sumber daya sosial dan kultural, strategi tersebut antara lain; 1) Media dan Komunikasi Alternatif, 2) Penggunaan Simbol, Budaya, dan Bahasa, 3) Mobilisasi melalui Isu-isu Non-material, 4) Konstruksi Identitas Kolektif (Collective Identity), 5) Desentralisasi dan Non-hirarkis. Lebih jauh, karya-karya video art tersebut juga berhasil membentuk ruang partisipasi publik yang transformatif, serta membuka kemungkinan lahirnya bentuk-bentuk baru gerakan sosial di tengah masyarakat kontemporer.

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Referensi

Barus, R. K. I. (2016). Pemberdayaan Perempuan melalui Media Sosial. JURNAL SIMBOLIKA Research and Learning in Communication Study, 1(2). BRIN. (2024, Februari 2).

BRIN Ungkap Potensi Restorasi 6 Juta Hektar Lahan Gambut Terdegradasi. Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Greenpeace. (2024, Agustus 29). Babak Baru Perjuangan untuk Merdeka dari Asap: 12 Warga Sumsel Gugat Korporasi. Greenpeace.

Fadli, M. R. (2021). Memahami desain metode penelitian kualitatif. Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum, 21(1), 33–54.

Haris, A., Rahman, A. B. A. B., & Ahmad, W. I. W. (2019). Mengenal gerakan sosial dalam perspektif ilmu sosial. Hasanuddin Journal of Sociology (HJS), 15–24.

Jenkins, J. C. (1983). Resource mobilization theory and the study of social movements. Annual review of sociology, 9(1), 527–553.

Sabatari, W. (2006). Seni: antara bentuk dan isi. Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni, 4(2).

Wijaya, T. (2023a, Maret 22). Sungai Musi yang Kehilangan Arsipnya. Mongabay Indonesia.

Wijaya, T. (2023b, September). “Ikan Sampah” yang Bertahan di Lahan Basah Sungai Musi. Pulitzer Center.

Wijaya, T., & Ismi, N. (2023, November 17). Perempuan-Perempuan yang Kehilangan Ikan dan Pengetahuannya. Project Multatuli.

Wijaya, T., & Prabu, A. R. (2023, September 5). Api Membakar Lahan di Sumatera Selatan, Penanggulangan Harus Cepat. Mongabay Indonesia

Diterbitkan

2025-08-14

Cara Mengutip

Video Art Sebagai Gerakan Lingkungan (Studi Gerakan Teater Potlot Palembang Sumatera Selatan). (2025). Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner , 2(02), 1212-1229. https://ojs.ruangpublikasi.com/index.php/jpim/article/view/828