Patron Klien pada Nelayan di Pesisir Pantai Serdang Desa Baru Kecamatan Manggar Kabupaten Belitung Timur

Penulis

  • Elda Pariska Universitas Bangka Belitung Penulis
  • Iskandar Zulkarnain Universitas Bangka Belitung Penulis
  • Putra Pratama Saputra Universitas Bangka Belitung Penulis

Kata Kunci:

Patron-client, Timbal Balik, Toke, Nelayan

Abstrak

Masalah ekonomi, ketidaksetaraan, dan kemiskinan yang dihadapi oleh nelayan merupakan akar penyebab masalah ketergantungan yang muncul di kalangan nelayan akibat pembentukan hubungan patron-klien. Nelayan terpaksa membangun hubungan kerja dengan toke sebagai akibat dari masalah ini; pada dasarnya, hubungan patron-klien yang telah terbentuk memiliki ketidakseimbangan dalam transaksinya dan pada akhirnya merugikan nelayan. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan hubungan patron-klien di kalangan nelayan di sepanjang Pantai Serdang dan menganalisis konsekuensi sosial dari hubungan tersebut. Teori patron-klien James C. Scoot digunakan sebagai alat analisis. Landasan studi ini adalah penerapan metodologi studi kasus dan teknik penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Temuan studi ini mengungkap dua fakta penting mengenai patron pesisir. Pertama, pola hubungan patron-klien telah muncul sebagai hasil dari hubungan timbal balik, yang merupakan pola saling memberi dan menerima. Dari perspektif ekonomi, jelas bahwa nelayan dan toke memiliki hubungan kooperatif yang didasarkan pada kebutuhan akan tenaga kerja. Di sisi lain, komponen sosialnya berupa interaksi antara nelayan dan toke dalam kehidupan sosial mereka, seperti ketika toke memberikan jaminan yang membuat nelayan bergantung pada bantuan toke. Selain itu, terdapat sistem toke yang menjadi dasar pengembangan pola hubungan patron-klien. Toke yang menyediakan seluruh modal, biaya kapal, dan hasil tangkapan ikan merupakan jenis pertama dari tiga sistem toke. Nelayan yang secara mandiri memproduksi dan memasarkan hasil tangkapan kepada toke berada di urutan ketiga, diikuti oleh toke yang hanya menyediakan kapal. Selain itu, konsekuensi sosial merupakan faktor yang signifikan. Ada nelayan yang tetap berada dalam hubungan patron-klien dan nelayan mandiri yang terjebak dalam jaringan patron, yang memiliki konsekuensi sosial. Karena mereka percaya ingin menghindari terjebak dalam perangkap toke yang secara bertahap merugikan mereka, nelayan ingin tetap mandiri. Untuk melarikan diri dari toke, nelayan melakukan perlawanan secara diam-diam, tetapi pada akhirnya, mereka menciptakan jaringan patron baru. Klien baru ini terbentuk berdasarkan metode yang kurang menguntungkan dari bos sebelumnya dan keinginan untuk memperbaiki kehidupan.

 

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Referensi

Duradin. (2017). Kebijakan Pemerintah Dibidang Perikanan untuk Pelestarian Lingkungan Hidup dan Kesejahteraan Nelayan. jurnal ilmiah indonesia , vol.2

Heddy. S. A. Putra (1988). Minawang: Hubungan Patron Klien di Sulawesi Selatan. Yogyakarta : Gadjah Mada University press.

Ibrahim. (2015). Metode Penelitian Kualitatif . Bandung : Alfabeta Retrived James. C. Scoot. (1993). Perlawanan Kaum Tani. Jakarta: Yayasan Obor.

James. C. Scoot. (2000). Senjatanya Orang-orang yang Kalah. Jakarta: Yayasan obor Indonesia. Kusnadi. (2009). Keberdayaan Nelayan Dalam Dinamika Ekonomi Pesisir. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media

Diterbitkan

2025-06-17

Terbitan

Bagian

Articles

Cara Mengutip

Patron Klien pada Nelayan di Pesisir Pantai Serdang Desa Baru Kecamatan Manggar Kabupaten Belitung Timur. (2025). Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner , 1(04), 1271-1287. https://ojs.ruangpublikasi.com/index.php/jpim/article/view/528