Analisis Pemahaman Doktrin Penciptaan Mahasiswa/I STT GPI Papua Fakfak dan Implikasinya terhadap Kesadaran
Keywords:
Doktrin Penciptaan; Pendidikan Agama Kristen; Ekoteologi; Kesadaran Ekoteologis; Mahasiswa Teologi; STT GPI Papua Fakfak.Abstract
Krisis lingkungan hidup yang semakin meningkat, baik pada tingkat global maupun di Papua, menuntut adanya respons yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga teologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman doktrin penciptaan mahasiswa/i STT GPI Papua Fakfak serta implikasinya terhadap kesadaran ekoteologis mereka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-interpretatif melalui studi kepustakaan dan wawancara semi-terstruktur terhadap mahasiswa/i STT GPI Papua Fakfak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memahami doktrin penciptaan sebagai pengakuan iman bahwa Allah adalah Pencipta dan pemilik seluruh ciptaan, sementara manusia sebagai gambar dan rupa Allah (Imago Dei) dipanggil untuk melaksanakan mandat penatalayanan (stewardship) terhadap alam. Pemahaman tersebut berkontribusi dalam membentuk kesadaran ekoteologis yang tercermin melalui pengetahuan, sikap, dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Penelitian ini juga menemukan bahwa Pendidikan Agama Kristen dan pendidikan teologi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ekologis melalui pengajaran doktrin penciptaan, etika lingkungan, dan tanggung jawab iman terhadap ciptaan. Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara pemahaman teologis dan praktik ekologis mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan integrasi yang lebih kuat antara pengajaran teologi, pembentukan spiritualitas ekologis, dan tindakan nyata dalam menjaga lingkungan hidup. Penelitian ini menegaskan bahwa mahasiswa teologi memiliki potensi strategis sebagai agen transformasi ekologis dalam gereja dan masyarakat, khususnya dalam konteks Papua yang menghadapi berbagai tantangan lingkungan hidup.
Unduhan
References
A. R. Poluan, "Membangun Kesadaran Ekologis Melalui Pendidikan Kristiani: Studi Kasus pada Mahasiswa IAKN Manado," Kurios 9, no. 2 (2023): 454.
Alfred Yopo dan Nelcy Mbelanggedo, "Ekoteologi dalam Kelas untuk Menumbuhkan Kesadaran Ekologis Berbasis Ajaran Kristen pada Generasi Muda," Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen: Arastamar 1, no. 2 (2025): 28–45.
Emanuel Gerrit Singgih, Pengantar Teologi Ekologi (Yogyakarta: Kanisius, 2021),47
Hendry L. W. Sihotang, Dewi Jani Affandi, dan Andreas L. Rantetampang, "Membangun Kesadaran Ecotheology Melalui Tridharma Panggilan Gereja," Matheo: Jurnal Teologi/Kependetaan 13, no. 1 (2023): 19–30.
Heni Maria, Jondri Josua, Darmi Tampang, dan Deril Randa Sosang, "Teologi Sosial dan Lingkungan Hidup: Membangun Kesadaran Ekologis dalam Masyarakat Toraja Masa Kini," Jurnal Arrabona: Jurnal Teologi dan Misi 6, no. 1 (2023): 108–124.
IPCC, Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability (Geneva: IPCC, 2022); lihat juga laporan UN Environment Programme (UNEP), Emissions Gap Report 2022 (Nairobi: UNEP, 2022).
Kajian ekoteologi Kejadian 1:28 sebagai amanat budaya bdk. Jurnal Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, Pendidikan 8, no. 1 (2024): 123–132; Agustin Soewitomo Putri, Joko Sembodo, dan Yusak Sigit Prabowo, "Menilik Prinsip Penatalayanan Manusia Terhadap Alam Berdasarkan Kejadian 1:26–28," DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani (2022).
Laana, D. L. (2025, December). Dari Iman Ke Aksi: Ekoteologi Sebagai Dasar Spiritualitas Generasi Muda Kristen Dalam Menghadapi Krisis Iklim. In Prosiding Seminar Nasional Teologi (Vol. 1, pp. 101-112).
Lynn White Jr., "The Historical Roots of Our Ecological Crisis," Science 155, no. 3767 (1967): 1203–1207; lihat diskusinya dalam Yusup Rogo Yuono, "Melawan Etika Lingkungan Antroposentris Melalui
Omega Ariestanti dan Janneman Usmany, "Strategi Pendidikan Agama Kristen Ekoteologi Bagi Masyarakat Suku Laut di GPIB Sola Fide Batam," DIDAKTIKOS: Jurnal Pendidikan Agama Kristen 7, no. 2 (2024): 66–73.
Pasaribu, Jabes, Elia Tambunan, Didimus Sutanto B. Prasetya, dan Ardianto Lahagu. “Lingkungan dan Iman: Edukasi Deep Ecology dalam Perspektif Ekoteologi di GBI My Home Tanjung Uban.” Journal Of Society Empowerment Publications 2, no. 1 (2025): 35–47. https://doi.org/10.69668/josep.v2i1.77
Riska, "Ekoteologi Kristen: Teologi Penciptaan dan Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan," Humanitis: Jurnal Humaniora, Sosial dan Bisnis 2, no. 9 (2024): 1061–1073; Amirrudin Zalukhu, "Integrasi Ekoteologi Kontekstual dalam Pendidikan Kristen dan Kearifan Manugal Dayak untuk Etika Lingkungan Berkelanjutan," Indonesian Research Journal on Education 5, no. 1 (2025): 2686–95.
Sabda Budiman dan Enggar Objantoro, "Survei Kesadaran Memelihara Lingkungan Hidup Berdasarkan Perspektif Ekoteologi di STT Simpson Ungaran," Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika 5, no. 1 (2022): 92–114.
UNEP, Making Peace with Nature: A Scientific Blueprint to Tackle the Climate, Biodiversity and Pollution Emergencies (Nairobi: UNEP, 2021), 5.
WALHI Papua, Siaran Pers: "WALHI Papua Menolak 481.000 Hektare Hutan Papua Dijadikan Kawasan Pangan Nasional," September 2025, diakses 10 Mei 2026, https://walhipapua.org.
Wila, A. (2025). KONSERVASI MANGROVE SEBAGAI MODEL PENDIDIKAN EKO-TEOLOGIS DI DESA OEBELO. PISTOS: Jurnal Teologi Kristen, 1(1), 28-36.
Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, "Tren dan Pendorong Pembukaan Lahan di Papua 2024–2025," 2025, diakses 10 Mei 2026, https://pusaka.or.id.
Yusup Rogo Yuono, "Melawan Etika Lingkungan Antroposentris Melalui Interpretasi Teologi Penciptaan Sebagai Landasan Bagi Pengelolaan-Pelestarian Lingkungan," FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika 2, no. 1 (2019): 186–206.





