Fragmentasi Regulasi dan Tantangan Kepatuhan Syariah pada Baitul Maal wat Tamwil (BMT) di Indonesia

Penulis

  • Fitri Kurnia Hapsari Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta Penulis
  • Adellia Ajeng Diva Saputri Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta Penulis
  • Zuhrotu Salwa Wulan Sari Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta Penulis
  • Asaila Rindi Afifah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta Penulis

Kata Kunci:

Baitul Maal wat Tamwil, Regulasi, Dewan Pengawas Syariah, Otoritas Jasa Keuangan, Koperasi Syariah, Kepastian Hukum

Abstrak

Regulasi Baitul Maal wat Tamwil (BMT) dalam sistem keuangan syariah Indonesia menghadapi tantangan signifikan akibat fragmentasi kerangka hukum dan dualisme otoritas pengawasan. BMT tunduk pada berbagai rezim hukum—hukum perkoperasian, hukum lembaga keuangan mikro, dan hukum perbankan syariah—yang mengakibatkan keragaman status badan hukum meliputi koperasi, perseroan terbatas, yayasan, bahkan entitas yang belum berbadan hukum. Fragmentasi ini menciptakan ketidakpastian hukum, lemahnya perlindungan nasabah, dan tumpang tindih kewenangan antara Kementerian Koperasi dan UKM dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas menjamin kepatuhan syariah masih belum optimal dalam praktiknya karena keterbatasan kompetensi, kendala waktu akibat rangkap jabatan, dan terbatasnya akses terhadap informasi operasional. Di tengah berbagai tantangan tersebut, BMT menunjukkan potensi besar sebagai lembaga keuangan mikro syariah terintegrasi yang menggabungkan fungsi sosial (baitul maal) melalui pengelolaan zakat, infak, dan wakaf dengan fungsi komersial (baitul tamwil) melalui pembiayaan berbasis bagi hasil dan jual beli. Pengelolaan wakaf uang oleh BMT tersertifikasi menghadirkan model inovatif untuk pemanfaatan dana produktif, meskipun pembatasan regulasi yang hanya menempatkan BMT sebagai nazhir tanpa kewenangan pengelolaan dana langsung menghambat optimalisasi pengembangan. Mekanisme perlindungan nasabah masih belum memadai dengan belum adanya lembaga penjamin simpanan khusus BMT meskipun Pasal 19 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 telah memberikan landasan hukum. Penguatan BMT memerlukan kerangka hukum terpadu, peningkatan otoritas DPS melalui sertifikasi kompetensi dan perluasan akses, standardisasi kepatuhan syariah, serta pembentukan lembaga penjamin simpanan khusus untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dan berkontribusi pada stabilitas sistem keuangan syariah. Penelitian hukum normatif ini menggunakan pendekatan perundang-undangan dan konseptual untuk menganalisis kerangka hukum BMT. Penguatan BMT memerlukan kerangka hukum terpadu, peningkatan otoritas DPS melalui sertifikasi kompetensi.

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Referensi

Adnan, Muhammad Akhyar, Agus Widarjono, dan M.Bekti Hendri Anto. “Study on Factors Influencing Performance of The Best Baitul Maal Wat Tamwils [BMTS] In Indonesia.” Iqtisad Journal of Islamic Economics 4, no. 1 (2003): 13–35.

https://doi.org/10.20885/iqtisad.vol4.iss1.art2.

Anwar, A F. “How Shariah Supervision Shapes Islamic Microfinance: Operational Models, Inclusion Outcomes, and Institutional Constraints.” Sukuk: International Journal of

Banking … 5, no. 1 (2026): 1–14.

https://sukukjournal.org.uk/index.php/sukuk/article/view/76%0Ahttps://sukukjournal. org.uk/index.php/sukuk/article/download/76/86.

Ascaraya, Siti Rahmawati, dan Raditya Sukmana. “Cash Waqf Models of Baitul Maal wat Tamwil in Indonesia,” 2017.

Aziz, Abdul. “The Effect of BMT Management on Performance to Distribute Productive Financing in Small Business Sectors in Cirebon.” AL-AMWAL: JURNAL EKONOMI DAN PERBANKAN SYARI’AH 11 (2019): 1–14.

https://doi.org/10.2139/ssrn.3434909.

Aziz, Aufar Abdul. “Perlidungan Hukum bagi Nasabah BMT (Baitul Maal wat Tamwil) Melalui Pembentukan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).” Supremasi Hukum: Jurnal Kajian Ilmu Hukum 11, no. 2 (2022): 161–78.

https://doi.org/10.14421/sh.v11i2.2706.

Ekawati, Destiana, dan Rohmawati Kusumaningtias. “The Role of Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) in Community Economic Empowerment.” Proceeding of

International Conference on Accounting & Finance 2, no. 2 (2024): 72–88. https://doi.org/10.69693/jfb.v1i2.30.

Fauzi, Ahmad. “Peran Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (Bprs) Dalam Mengembangkan

Ekonomi Masyarakat Bangka Beltung.” Jurnal Istiqro: Jurnal Hukum Islam, Ekonomi dan Bisnis 5, no. 1 (2019): 34. https://doi.org/10.35194/eeki.v4i1.3919.

Jihad, Azka Amalia, Khairul Azmy, Nazaruddin A. Wahab, Azman Sayuti, dan Faisal Fauzan. “The Role of the Supervisory Board in the Development of Sharia

Cooperatives in Aceh After the Enactment of the Sharia Financial Institutions Law.”

Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam 8, no. 2 (2024): 1054–76. https://doi.org/10.22373/sjhk.v8i2.19610.

Ma’unatun, Nadhifah, Windah Mastuti, dan Kharis Fadlullah Hana. “the Role of the Sharia Supervisory Board (Dps) in Implementing Sharia Principles in Baitul Maal Wa

Tamwil (Bmt) Products.” Ihtiyath : Jurnal Manajemen Keuangan Syariah 6, no. 1 (2022): 49–63. https://doi.org/10.32505/ihtiyath.v6i1.4211.

Majelis Ulama Indonesia. “Fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia No.

/DSN-MUI/VIII/2021 Tentang Pedoman Pendirian Dan Operasional Koperasi Syariah,” 2021.

Melina, Ficha. “Pembiayaan Murabahah Di Baitul Maal Wat Tamwil (Bmt).” Jurnal Tabarru’: Islamic Banking and Finance 3, no. 2 (2020): 269–80.

https://doi.org/10.25299/jtb.2020.vol3(2).5878.

Nugroho, Muh Awal Satrio. “Urgensi Penerapan Islamic Corporate Governance Di Baitul Maal Wat Tamwil (BMT).” Jurnal Kajian Bisnis 23, no. 1 (2015): 64–70.

https://doi.org/10.32477/jkb.v23i1.204.

Diterbitkan

2026-05-29

Cara Mengutip

Fragmentasi Regulasi dan Tantangan Kepatuhan Syariah pada Baitul Maal wat Tamwil (BMT) di Indonesia. (2026). Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner , 3(01). https://ojs.ruangpublikasi.com/index.php/jpim/article/view/2010