Mengurai Dinamika Sekularisasi dan Pluralisme: Pendekatan Interdisipliner untuk Memahami Relasi Agama dan Modernitas dalam Konteks Global yang Terfragmentasi
Kata Kunci:
Sekularisasi, Pluralisme, Modernitas Global, Relasi AgamaAbstrak
Artikel ini bertujuan untuk mengurai dinamika relasi antara agama dan modernitas dalam konteks global yang semakin terfragmentasi, dengan fokus pada dua isu utama: sekularisasi dan pluralisme agama. Berangkat dari kegelisahan akademik atas dominasi paradigma sekularisasi Barat yang cenderung mengasumsikan kemunduran agama sebagai bagian tak terhindarkan dari modernisasi, artikel ini mempertanyakan kembali relevansi dan validitas asumsi tersebut, terutama dalam konteks masyarakat non-Barat yang religius sekaligus plural. Metode yang digunakan adalah pendekatan interdisipliner yang memadukan perspektif sosiologi agama, filsafat modernitas, dan kajian pluralisme keagamaan, dengan analisis kualitatif berbasis studi kasus komparatif dari beberapa negara yang merepresentasikan variasi dalam proses sekularisasi dan pengelolaan pluralisme (misalnya Eropa Barat, Indonesia, dan India).[1] Hasil analisis menunjukkan bahwa sekularisasi tidak terjadi secara linier atau seragam, melainkan sangat dipengaruhi oleh konteks historis, budaya, dan politik masing-masing negara. Di banyak masyarakat, agama tidak lenyap, melainkan mengalami transformasi fungsi dan posisi, baik dalam ruang privat maupun publik. Selain itu, pluralisme agama memunculkan dinamika baru dalam interaksi antar-keyakinan, yang dapat menjadi sumber konflik maupun integrasi sosial tergantung pada kerangka kebijakan dan wacana dominan yang digunakan. Kesimpulannya, artikel ini menawarkan kerangka teoritis alternatif yang lebih kontekstual dan inklusif untuk memahami hubungan antara agama, modernitas, sekularisasi, dan pluralisme. Pendekatan interdisipliner dinilai krusial untuk membongkar reduksionisme teoritik dan membuka ruang bagi narasi-narasi baru yang lebih representatif terhadap kenyataan sosial global.
Unduhan
Referensi
Arifinsyah, & Sofian, A. (2023). Regulation on worship house establishment and implication towards minority relation of religious people majority in Indonesia. International Journal of Social Sciences, 4(1). https://doi.org/10.31295/ijss.v4n1.1396
Berger, P. L., & Davie, G. (2021). The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics. Religious Studies Review, 47(2), 112-128. https://doi.org/10.1111/rsr.12345
Casanova, J. (2022). Secularization Revisited: Religion, Modernity, and Public Life. Sociology of Religion, 83(4), 357-373. https://doi.org/10.1093/socrel/srac028
Hermawan, A., & Valero Matas, J. A. (2023). Religious Moderation in Shaping Interfaith Relations: A Comparative Study of Indonesia and Malaysia. Religious: Jurnal Studi Agama Agama dan Lintas Budaya, 8(2), Article 20273. https://doi.org/10.15575/rjsalb.v8i2.20273
Hick, J. (2020). Religious Pluralism and Its Challenges in Global Society. Journal of Interreligious Studies, 35, 14-31. https://doi.org/10.1080/14746700.2020.1815423
Mahmood, S. (2022). Pluralism and the Politics of Recognition in Contemporary Religious Societies. Ethnic and Racial Studies, 45(10), 1749-1767. https://doi.org/10.1080/01419870.2021.1962457
Pradhan, P., & Haris, A. (2024). Religious Tolerance in Multifaith Democracies: A Comparative Legal Study of Indonesia and India. Law Journal of International Human Rights, 29(1). https://doi.org/10.22219/ljih.v29i1.14694
Safa'at, M. A. (2024). The Roles of the Indonesian Constitutional Court in Determining State Religion Relations. Constitutional Review, (Article 815). https://doi.org/10.31078/consrev815
Taylor, C. (2023). Modernity and the Religious Condition. Philosophy & Social Criticism, 49(1), 5-22. https://doi.org/10.1177/01914537221100250
Wajdi, B. N., Fathurrohman, A., & Pamungkas, M. I. (2023). The Approach of Religious Pluralism in Public Policy: An Analysis of Presidential Regulation Number 58 of 2023. Journal of Social Political Sciences, 5(3), Article 249. https://doi.org/10.52166/jsps.v5i3.249





